He Wants More
cw // smoking , drinking alcohol , kiss , sex
Setelah terdengar kata action, Jeno mulai masuk kembali ke dalam karakternya sebagai bad boy. Dia mulai bertingkah layaknya lelaki berandalan seperti yang tertera dalam naskah drama.
Sekarang mereka tengah melakukan pengambilan gambar di sebuah rumah yang disewa untuk keperluan syuting. Rumah besar yang merupakan rumah Daejung, karakter Jeno dalam drama.
Daejung berjalan memasuki rumah sambil merangkul sang kekasih, Hyunae. Satu tangannya yang kosong mengambil rokok yang mengepul yang sedaritadi diapit oleh bibirnya. Kepulan asap langsung tercipta saat Daejung menghembuskannya. Dia memberikan puntung rokok yang masih menyala pada Hyunae, yang dengan senang hati langsung menghisap nikotin itu.
Jeno dan Jaemin bukanlah tipikal orang yang gila merokok. Mereka hanya merokok untuk keperluan drama saja, seperti sekarang misalnya, pun sama dengan mengonsumsi minuman beralkohol.
Dibuangnya puntung rokok oleh Daejung ke dalam tempat sampah setelah sebelumnya dimatikan terlebih dulu. Dia berjalan ke arah lemari pendingin untuk mengambil sebotol minuman beralkohol.
“Ini buat lo.” Daejung menyerahkan segelas kecil minuman beralkohol itu pada Hyunae.
Hyunae menerima pemberian Daejung dengan senyuman kecil. Dia menenggak minuman itu tanpa berpikir terlebih dulu. Segelas kecil minuman berwarna seperti teh itu telah habis dalam sekejap.
Alunan musik terdengar setelah Daejung menyalakan radio portabelnya yang terletak di atas meja mini bar. Dia berjalan menghampiri Hyunae seraya memberikan tatapan penuh arti.
Keduanya berdansa mengikuti alunan lagu yang tengah berputar. Daejung memegang pinggang Hyunae dengan posesif, sementara Hyunae memegang masing-masing bahu Daejung.
Jantung Jeno mulai bertalu-talu saat keningnya dan kening Jaemin saling menempel. Dia jelas tahu adegan apa yang harus dilakukan setelah ini.
Mencium Jaemin—koreksi—mencium Hyunae.
Didekatkan bibirnya pada bibir Jaemin. Entah mengapa kepalanya terasa sedikit pening saat jantungnya semakin bekerja keras di dalam rengkuhan tulang rusuknya. Namun, dia harus profesional. Dia telah dibayar cukup tinggi untuk memerankan karakter Daejung.
Kedua pasang bibir itu telah bertemu. Keduanya saling memagut pelan bibir lawan mainnya. Jeno memilih memagut bibir bawah Jaemin.
Rasa manis dan kenyalnya bibir Jaemin membuat Jeno mulai sedikit kehilangan akal. Dia ingin serakah. Dia ingin menikmati lebih.
Ritme pagutan itu berubah saat Jeno mulai tidak sabaran mencumbu Jaemin yang mulai melingkarkan tangannya di lehernya.
Senyum kecil terbentuk saat merasakan Jaemin membalas ciumannya yang mulai sedikit tak beraturan.
Jeno sesekali membiarkan Jaemin mendominasi, setelahnya dia kembali mengambil alih. Begitu seterusnya sampai keduanya mulai berjalan pelan ke arah sebuah sofa malas yang tak jauh dari sana.
Didorongnya tubuh Jaemin ke sofa, membuat lengan Jaemin yang melingkar di leher Jeno terpaksa terlepas. Kemudian, dia mengukung tubuh yang sudah terbaring di atas sofa itu. Masing-masing tangan Jeno berada di sisi kepala Jaemin.
Terdengar suara Yuta yang memberi arahan untuk kedua aktor muda itu. Sayangnya, Jeno lebih memilih melakukan berdasarkan instingnya.
Kedua benda padat namun kenyal itu kembali bertemu. Keduanya kembali terhanyut dalam pagutan. Tangan keduanya tidak diam saja. Dua pasang tangan itu saling bekerja sama membuka pakaian satu sama lain.
Pagutan itu terlepas hanya karena Jeno melepaskan kaos hitam polosnya yang melekat pada tubuhnya, membuang sembarangan karena dia buru-buru ingin kembali mencumbu Jaemin yang terlihat menggoda di bawahnya.
Keduanya sama-sama sudah tidak mengenakan pakaian atas mereka.
Tangan nakal Jeno mulai menggerayangi tubuh atas Jaemin. Mulai dari mengelus pelan dagunya, jakunnya, kedua tonjolan kecil yang mulai menegang, dan berhenti tepat di atas kancing celananya.
Jeno ingat bahwa di naskah drama mereka hanya boleh saling menyentuh tubuh bagian atas saja. Namun, setelah mendengar desahan tertahan yang entah sengaja atau tidak sengaja dikeluarkan Jaemin saat tangannya mengelus tadi, membuat Jeno ingin menggerayangi tubuh bagian bawah Jaemin.
Cumbuan itu terlepas saat Jeno menyadari sinyal yang diberikan Jaemin. Sinyal yang berupa beberapa pukulan ringan di dadanya.
“Lo gak denger suara cut, ya?” tanya Jaemin yang masih terengah di bawah Jeno.
Jeno tersentak. Dia buru-buru mengumpulkan akal sehatnya yang sempat berpergian. Tubuhnya bergeser dari atas Jaemin.
“Maaf,” cicit Jeno setelah dirinya dan Jaemin kembali berpakaian.
“Gapapa.”
Jaemin berlalu lebih dulu setelah mengatakan demikian, meninggalkan Jeno yang terdiam karena sibuk dengan pikirannya sendiri.